Senin, 01 April 2024

Otonan, "Blueprint" Kelahiran Manusia Bali

Sebagai manusia Bali, tentu saja kita memiliki banyak sekali keunikan dan ciri khas yang melekat pada diri kita. Misalnya saja memiliki bahasa tersendiri yaitu Bahasa Bali, memiliki tradisi-tradisi tersendiri dan lain sebagainya. Itulah yang kemudian disebut sebagai salah satu bentuk warisan dari leluhur yang mana tidak selalu bersifat kebendaan atau materi semata. Akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah warisan ilmu pengetahuan dalam tradisi milik leluhur yang kemudian wajib untuk diterima dan dipahami oleh kita sebagai manusia Bali. Salah satunya warisan budaya yang bernama otonan. 

Otonan sendiri merupakan sebuah tradisi ritual yang mana bertujuan untuk memperingati hari lahir seseorang secara tradisional Bali. Namun berbeda dengan ulang tahun yang lumrahnya diperingati setahun sekali didasarkan atas angka tanggal dan bulan, otonan diperingati atau dilaksanakan setiap 6 bulan Bali atau 210 hari sekali. Peringatannya sendiri didasarkan atas pertemuan hari atau yang dalam istilah tradisionalnya disebut Saptawara dengan pepasaran atau Pancawara yang terdiri dari Umanis, Paing, Pon, Wage dan Kliwon serta dikaitkan pula dengan Wuku yang menaungi hari tersebut. Pada saat otonan, seseorang akan melaksanakan upacara yang terdiri dari natab sampian otonan, ngaturang sembah dan sebagainya sesuai dengan dresta dan tradisi di masing-masing wilayah. Karena pada intinya, tradisi ini dilaksanakan dengan harapan agar ia yang diupacarai senantiasa mendapatkan perlindungan dan anugerah dari Ida Sanghyang Widhi Wasa serta leluhur yang diyakini telah "dumateng" atau bereinkarnasi pada seseorang tersebut. 

Namun apakah otonan tersebut hanya merupakan sebuah upacara atau ritual semata? Ternyata tidak. Sebab dibalik ritual otonan itu, tersimpan pengetahuan yang sangat dalam dan luar biasa mengenai kelahiran dari seseorang tersebut. Apakah itu pembawaan karakteristik pribadi dan perilakunya, kesesuaian dengan jenis pekerjaan yang bisa diambil bahkan hingga alur perjalanan hidup bisa dipelajari dan dipahami hanya dengan mengetahui "tegak oton" atau hari otonan seseorang tersebut. Sebab dalam sebuah hari otonan, akan melekat banyak hal yang mana didalamnya mengandung arti, makna dan bahkan pesan khusus mengenai orang yang bersangkutan. Baik itu misalnya wewaran, palelintangan, watek madya watek alit, pangarasan, panca sudha dan sebagainya yang akan menggambarkan atau memberi informasi mengenai orang dengan otonan tersebut. Sebagaimana kemudian dibuktikan melalui studi kasus di lapangan, dimana akurasi mengenai kesesuaian karakter seseorang ketika dibaca melalui "pawacakan oton" atau unsur-unsur dalam otonan twraebut cenderung mencapai hingga 85%. Aka  tetapi tetap saja untuk dapat memahami mengenai hal-hal tersebut, diperlukan adanya usaha mempelajarinya terlebih dahulu. Namun dengan kecanggihan teknologi informasi seperti sekarang ini, tampaknya tidak sulit untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal tersebut. 

Dengan adanya berbagai macam informasi maupun hal-hal yang bersifat pribadi terhadap seseorang dari hari otonan tersebut. Tentu saja hari otonan menjadi sangat penting untuk dipahami karena diharapkan seseorang yang sudah memahami otonan dan pesan-pesan dibaliknya dapat mengusahakan hal yang terbaik bagi dirinya dan menghindarkan diri dari hal-hal yang berbahaya bagi dirinya sebagai suatu bentuk usaha menjalankan kehidupan. Selain itu juga, masyarakat juga meyakini bahwa  di tangan orang tertentu, otonan juga bisa dipakai sebagai dasar bagi seseorang untuk melakukan tindakan yang bersifat menyakiti atau tidak baik. Sebab ketika si pelaku memahami apa saja bagian-bagian dan termasuk pula kelemahan-kelemahan orang tersebut berdasarkan otonan nya, maka akan sangat mudah baginya untuk bertindak sesuai yang diinginkan. Karena itulah kemudian menurut Prangga Wardana, seorang pemuda putra Hokage Renongakure yang dalam setahun terakhir ini mulai menggemari Wariga mengatakan bahwa sangat penting untuk merahasiakan otonan kita dalam konteks menjaga diri sebab otonan merupakan blueprint  Yang menggambarkan seperti apa dan bagaimana orang tersebut. "Otonan adalah blueprint atau cetak biru dari seseorang tersebut. Sebab dalam otonan, termuat berbagai macam informasi yang ketika diketahui oleh orang yang berniat buruk terhadap kita bisa menjadi dasar untuk menyakiti kita baik secara "sekala" maupun "niskala". Sehingga perlu bagi kita untuk senantiasa berhati-hati, " sebut seniman yang memulai debutnya di bidang komik dengan judul Satua I Leak Barak tersebut. 

Tidak mudah untuk melepas segala hal yang terkesan "modern" atau "luar negeri" dan kemudian kembali untuk mengacu pada hal-hal warisan leluhur Bali yang bersifat tradisional atau yang kerap diejek sebagai sesuatu yang kuno. Padahal sesungguhnya warisan leluhur jauh lebih rinci dibandingkan dengan apa yang diterima dari luar negeri. Akan tetapi meski sulit namun bukan berarti tidak bisa, sebab Prangga Wardana sendiri telah membuktikan bahwa anak-anak muda modern pun ternyata memiliki minat yang tinggi terhadap ilmu tradisional Bali warisan leluhur. Sebab kalau bukan kita sebagai manusia Bali yang mewarisinya, maka tentu tidak akan ada lagi yang akan melakukannya... (was) 

Kamis, 16 April 2020

Klepon Kedungu - Enak karena Dibuat dengan Aturan yang Tepat

Siapa yang tidak mengenal klepon? Jajanan tradisional yang berbentuk seperti butiran-butiran atau bola yang bulat tidak sempurna kemudian di dalamnya berisi sirup gula Bali yang manis. Merupakan sebuah jajanan tradisional yang menarik dan khas. Terlebih lagi dihidangkan dengan baluran kelapa parut tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya. Klepon itu sendiri ada dua jenis, yaitu yang berwarna hijau dan yang berwarna hitam. Yang hijau adalah dibuat dengan campuran dari tepung ketan yang diulet dengan menggunakan air daun suji sedangkan yang hitam adalah tepun ketan hitam/injin dan bukan tepung ketan biasa yang diwarnai dengan kopi.

Banyak sekali masyarakat yang berusaha membuat klepon. Akan tetapi tidak jarang hasilnya tidak bisa sesuai dengan yang diharapkan dan rasanya tidak enak seperti yang dibeli atau yang sering dijual oleh pedagang jajanan tradisional, meski demikian klepon yang dijual pun tidak jarang rasanya tidak begitu enak. Namun terdapat beberapa klepon yang terkenal, salah satunya adalah klepon dari banjar Kedungu yang terkenal dengan rasa yang enak dan teksturnya yang lembut. Ternyata klepon Kedungu bisa selembut itu karena dalam pembuatannya ada aturan yang harus diikuti dengan tepat. 

Bu Agus, yang merupakan salah satu pembuat dan penjual klepon dari Kedungu ini mengatakan bahwa sebagian besar konsumen mengatakan bahwa klepon Kedungu lebih lembut dari klepon lainnya yang cenderung agak keras. “Itu karena klepon harus diselesaikan dan direbus beberapa jam atau maksimal 3-4 jam sebelum akan dinikmati atau akan dijual, sebab jika sampai diselesaikan serta direbus semalam dan baru akan dinikmati keesokan harinya itulah yang menyebabkan klepon menjadi bertekstur agak kaku,” sebut beliau.

Sebelum membuat klepon, bahan-bahannya haruslah disiapkan yaitu tepung beras atau tepung ketan atau tepung ketan hitam jika ingin membuat yang warna hitam. Kemudian sertakan tepung kanji dan untuk pewarna hijaunya gunakan air daun suji, jangan menggunakan pewarna buatan karena akan mempengaruhi rasanya. Kemudian yang tidak kalah pentingnya yaitu gula aren dan bisa ditambahkan kelapa parut untuk taburannya, tapi itu sesuai dengan selera masing-masing.

Tahap pembuatannya yaitu pertama tepung ketan tersebut dikukus, kemudian setelah agak lengket diangkat dan dicampur dengan kanji dan diulet serta dicampur dengan air daun suji untuk menghasilkan warna hijau. Setelah adonan lumayan lengket dan sedikit lembek, maka adonan tersebut dibentuk dan dilubangi serta diisi dengan gula aren. “Dalam melubanginya haruslah berhati-hati karena jika tidak hati-hati adonan akan terlalu tipis sehingga akan bocor,” sebut beliau menambahkan.

Jika sudah diisi gula, maka rebus klepon tersebut sampai mengambang. Sebab jika sudah mengambang itu tanda klepon sudah matang namun jangan sampai terlalu lama merebusnya karena itu akan membuat klepon menjadi terlalu matang sehingga mengembung dan pecah. Setelah itu didinginkan sebentar kemudian ditaburi dengan kelapa parut maka klepon siap untuk dinikmati.

Senin, 15 Januari 2018

Jegog "Abarung", Terdiri Atas Beberapa Jenis Instrumen dengan Pola Permainan yang Berbeda


Masing-masing daerah pasti memiliki ciri khasnya masing-masing sehingga itulah kemudian menjadi penyebab mengapa daerah-daerah yang memiliki keunikan-keunikan tersebut menjadi suatu hal yang wajib dikunjungi oleh para penggemar travelling atau berwisata. Hal tersebut juga ditemukan di Bali yang sejak dulu terkenal sebagai “pulau Dewata” atau “Pulau Seribu Pura” yaitu berupa keindahan alam maupun berbagai bentuk seni dan budayanya. Terkait dengan kesenian atau berupa instrument gamelan, hampir semua daerah di Bali memiliki dan mengenalinya sebagai salah satu bentuk kesenian budaya. Akan tetapi di beberapa daerah seperti misalnya di daerah Jembrana, terdapat jenis gambelan atau instrument musik tradisional yang berbeda dan menjadi sebuah ciri khas tersendiri, yaitu berupa Jegog.
Menurut Mangku Ketut Sindya salah satu masyarakat panglingsir di desa Pergung Jembrana, jegog adalah sebuah kesenian khas dari Kabupaten Jembrana yang menggunakan bungbung-bungbung bambu tersusun sedemikian rupa untuk menghasilkan suara yang khas. Alat musik yang kerap dimainkan saat mesakapan, piodalan, atau saat festival-festival ini sendiri juga seringkali dikaitkan dengan berbagai jenis tarian. Hal serupa juga disampaikan oleh I Komang Wartaya yakni anggota sekaa jegog Sekar Taji desa Pergung. Beliau mengatakan bahwa jegog biasanya juga berisikan berbagai jenis tarian seperti misalnya berupa joged bumbung. Ada juga jenis lainnya seperti misalnya berupa tari Pusparesti, Belibis, Cendrawasih dan juga tari Makepung khas Jembrana. Tidak hanya itu bahkan jegog juga dapat digunakan untuk mengiringi tarian topeng jikalau memang diinginkan oleh pemilik karya. Juga bisa dipakai untuk mengiringi drama dan di masa lalu juga dipakai mengiringi pencak silat maupun cabang. Untuk tabuh yang dimainkan sendiri bermacam-macam, diantaranya yaitu Tabuh Tegak, tabuh Lembar Iswara, tabuh Doplangan. Terdapat pula tabuh genderan, tabuh Bali, tabuh Jalak Putih, tabuh tangis alit, yang tergolong tabuhan ciri khas kuno. “Sedangkan saat prosesi awal atau disebut mungkah sabda maka digunakan tabuh Truntungan yang biasanya akan dimainkan 5-6 menit sebagai  sebagai pembukaan dan setelah itu barulah dilanjutkan dengan tabuh lainnya. Kemudian jika akan dipakai di festival yaitu tabuh kreasi baru berupa Tabuh Kulkul Banjar” sebut Komang Wartaya.
I Komang Wartaya pun menambahkan, pada dasarnya Jegog atau Jegogan itu sendiri adalah instrument atau gamelan bambu yang ukurannya paling besarnya saja dan dalam formasinya paling belakang. Sedangkan untuk yang lainnya memiliki nama masing-masing dan juga tersusun atas formasi tertentu. Diantaranya yaitu untuk yang ditempatkan di baris depan disebut dengan Barangan yang jumlahnya yaitu 3 buah, kemudian dibelakangnya lagi yaitu disebut dengan Kancil atau Kancilan sebanyak 3 buah yaitu sebagai pemanisnya. Dibelakang kancil ada yang disebut dengan Suwir berjumlah 3 buah dengan pegapit 2 buah di kanan dan kirinya yang disebut dengan Kuntung atau disebut dengan Celuluk sebanyak 2 buah. Kemudian paling belakang yaitu Jegogan tadi sebanyak 1 buah dan ia diapit di kanan-kirinya dengan gambelan yang disebut dengan  Undir sebanyak 2 buah. Sehingga totalnya sebanyak 14 buah instrument dan ditambah dengan kletuk atau tawa-tawa 1 buah, kendang 2 buah, cengceng 1 buah dan suling 1 buah sehingga lengkapnya bisa mencapai 19 instrumen musik yang disebut dengan gambelan jegog abarung.
Keunikan lainnya yaitu menurut beliau adalah dari segi permainannya, sebab dalam memainkan satu tabuh maka tiap jenis intrumen bambunya dimainkan secara berbeda-beda untuk menghasilkan satu irama. Misalnya saja yaitu untuk di barangan kedua panggulnya akan ngebun satu dan ngoncang satu atau seperti ngerindik yaitu matel yang tangan kanan dan yang tangan kiri ngiing. Kemudian untuk di kancil dan suwir gegebugannya yaitu disebut dengan maket dan nyelangkit dimana antara tangan kanan dan kiri harus mampu hidup berdiri sendiri. Kemudian untuk di kuntung disebut dengan ngiing dan ngicig sedangkan untuk di undir sama dengan pada jegogannya yaitu ngicig saja, namun ketiganya itu harus memakai tenaga yang cukup besar sebab selain panggul yang agak berat juga dengan tujuan agar suara yang dihasilkan bisa ngangkep keras. Ditanya mengenai jumlah penabuhnya, beliau mengatakan bahwa meski instrumen abarungnya sebanyak 19 buah, namun jumlah pemainnya bisa sebanyak 20 orang karena pada jegogannya dimainkan oleh dua orang. hal serupa juga disampaikan oleh I Made Dwi Septian Cahyadi, S.Pd.B yakni pengurus sekaa jegog Sekar Taji yang juga anggota Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Jembrana. Dirinya mengatakan bahwa meski jumlah instrumennya adalah 19, namun pemainnya bisa mencapai 20 orang dan di jegogannya tersebut harus mampu dimainkan oleh kedua penabuh dengan baik dan serasi. Selain itu secara umum memainkan jegog tersebut juga unik karena menuntut konsentrasi serta tingkat kehapalan penabuh terhadap tabuh yang dimainkan. “Tata cara memainkan jegog itu unik sebab antara tangan kanan dengan tangan kirinya sama sama megang panggul dan keduanya memainkan not atau nada yang berbeda. Seperti orang ngerindik, satu tangannya ngebun satu lagi ngoncang,” sebut Dwi Septian Cahyadi menjelaskan.





Kendang Mebarung, Kendang Tradisional Jembrana


Kesenian adalah merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang lahir atau tercipta sebagai bagian dari kehidupan manusia beserta segala bentuk proses dan interaksi antar manusia yang terjadi di dalamnya. Bentuk-bentuk kesenian itu sendiri sudah dapat dipastikan tidaklah sama sebab itu akan dipengaruhi atau ditentukan oleh kondisi masyarakat pendukungnya maupun kondisi alam di wilayah tersebut. Sehingga tidak heran jika untuk suatu aspek kesenian yang sama misalnya gegambelan, akan terdapat bentuk-bentuk yang berbeda dan justru semakin menambah keragaman atau kekayaan budaya tersebut. Hal serupa juga ditemukan di Bali,  yang mana di wilayah Jembrana terdapat sebuah alat musik tradisional atau gambelan yang khas dan memang tidak ada di wilayah lain di Bali. Adapun jenis gambelan itu yakni disebut dengan Kendang Mebarung.
Kendang Mabarung ini yaitu sebuah kendang tradisional yang berukuran sangat besar, yaitu garis tengahnya bisa sampai 80 cm hingga 82 cm dengan panjang badan kendang tersebut mencapai 2,25 meter. Mangku Ketut Sindya yaitu salah satu masyarakat panglingsir di desa Pergung Jembrana mengatakan bahwa kesenian tersebut adalah sebuah kesenian warisan leluhur yang kerap kali dimainkan oleh masyarakat pengingsir atau yang tergolong tua. Pada awalnya kesenian tersebut digunakan sebagai ajang untuk berolahraga bagi mereka namun kemudian menjadi sebuah kesenian untuk adu kualitas suara atau "meluung-luungan munyi". Lebih lanjut beliau mengatakan, jenis kesenian yang ini bisa ditemukan di beberapa wilayah di Jembrana  misalnya di Penyaringan, Tegal Cangkring, Pergung dan sebagainya ini biasanya akan disuarakan saat ada karya dipura, saat layon berangkat ke setra, mengiringi kegiatan mecaru, saat upacara pawiwahan dan bahkan nyambutin. Namun itu sendiri kembali kepada minat atau keinginan dari si pemilik upacara karena pada dasarnya itu bukanlah suatu kewajiban atau keharusan. "Tidak hanya itu meski banyak ditemukan, namun tidak bisa dipastikan bahwa setiap desa di Jembrana pasti memilikinya. Hal itu sendiri mengikuti atau menyesuaikan dengan keinginan masyarakat di banjar maupun desa adat yang bersangkutan dan bukanlah sebuah kewajiban," sebut Mangku Sindya.
Tidak hanya unik dari segi bentuknya, Mangku Sindya juga mengatakan bahwa kendang itu sendiri memiliki keunikan lainnya. Hal itu sendiri yakni dari sebuah kendang mebarung tersebut akan menghasilkan 5 jenis suara yang berbeda, diantaranya yaitu disebut dengan suara Tutuk atau suara kerasnya, kemudian Grantangan yakni berupa ngarrrrrr ngararararar, kemudian Reng yakni ngurr ngurrr ngurrrr, suara Glendengan maupun Angkepan atau proporsionalitas dari keempat suara tadi. Namun ia tidak akan bisa dideteksi tanpa bantuan alat mendengarnya, hal tersebut seperti yang disebutkan oleh  I Ketut Suwandra yaitu Ketua Sekaa Kendang Mabarung Adnyana Tunggal Desa Pergung, Jembrana. Beliau mengatakan bahwa untuk mendengarkan bagus-jeleknya kelima suara kendang tersebut harus  berdiri jauh dari kendang tersebut dipukul kemudian memakai bungbung yang didekatkan di telinga pendengar. Suara yang kemudian didengarkan itu adalah berupa gema suara yang muncul dari bungbung tersebut. Saat itulah akan didengarkan secara seksama apakah suaranya sudah pas atau perlu diperbaiki lagi agar makin bagus suaranya itu atau bagaimana.
Ditanya mengenai bagaimana perbaikan kendang tersebut dilakukan, Ketut Suwandra mengatakan bahwa itu dilakukan tidak ada waktu berkala melainkan saat suaranya dianggap berubah atau kualitasnya menurun saja. Sedangkan jika didasarkan pada kondisi badan atau kayu kendangnya itu tidak menjadi penentu. Ditanya hal apa yang paling penting untuk dapat memainkan kendang yang memakai panggul dari bahan rotan ini, Ketut Suwandra mengatakan bahwa yang terpenting adalah kelenturan tangan dan lengan. Sebab jikalau tangan dan lengan kita tidak lentur maka disarankan untuk tidak ikut memukulnya sebab akan menimbulkan sakit dan kaku pada keduanya tadi. "Memainkan kendang ini adalah susah-susah gampang, sebab selain harus lentur pola pukulannya tidak mudah dan harus melalui tahap pembiasaan. Jika tidak maka setelah selesai memukul kendang mebarung tersebut akan membuat badan semua tersa pegal dan kaku semua dan suara kendangnya pun jauh dari yang diharapkan," demikian Ketut Suwandra menjelaskan.





Selasa, 22 November 2016

Puputan Margarana, Perang Besar di Desa Klaci Marga

Sebagian besar masyarakat Indonesia tentu masih ingat dengan semboyan bapak Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno yaitu “jasmerah” yang berarti “jangan sekali-sekali melupakan Sejarah” yang jelas memiliki makna yang amat dalam dalam kehidupan masyarakat kita. Hal itu menjadi sebuah pesan kuat bahwa sebagai generasi penerus bangsa berkewajiban untuk senantiasa mengambil pelajaran penting dari peristiwa di masa lalu dalam menyongsong atau menyambut masa depan. Itu berlaku di seluruh wilayah Indonesia tidak terkecuali di Bali karena di Bali sendiri tidak sedikit terjadi peristiwa-peristiwa bersejarah yang penting dalam perjuangan dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia ini. Itu sendiri terjadi sejak jaman kerajaan-kerajaan di Bali hingga pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Salah satunya yaitu peristiwa Puputan Margarana.

Tugu Peringatan Puputan Margarana
Peristiwa Puputan Margarana itu sendiri adalah merupakan bentuk keinginan kuat para pemuda Bali, masyarakat Bali dan pejuang-pejuang Bali dalam mempertahankan NKRI yang telah di Proklamasikan pada 17 Agustus 1945. Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A. yakni dosen di fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana mengatakan bahwa ketika itu masyarakat di Bali sudah mengetahui dan memahami perihal kemerdekaan Indonesia tersebut. Hanya saja dengan hadirnya kembali Belanda yang dibonceng atau menumpang dengan pasukan sekutu menimbulkan tanda tanya besar bagi masyarakat di Bali terutama oleh pimpinan tertinggi pasukan Ciung Wanara yakni Kolonel Anumerta I Gst. Ngurah Rai bersama seluruh pasukannya. Muncul kecurigaan bahwa dari gelagatnya Belanda ingin sekali untuk menguasai Indonesia terutama di Bali setelah mendengar berita kekalahan Jepang tersebut. Beliau kemudian menambahkan setelah melakukan berbagai perlawanan serta sempat menyerang dan menjarah Tangsi di Tabanan, maka beliau bersama pasukannya kemudian bersembunyi di wilayah desa Ole Marga tepatnya di wilayah banjar Batukaang. Namun ketika akan melanjutkan pergerakan sampai ke wilayah Gunung Agung, beliau terkepung di wilayah persawahan di Desa Klaci, Marga karena seluruh jalur ditutup oleh pihak Belanda. “Ketika itu dari awal pertempuran beliau beserta pasukan Ciung Wanara sempat unggul Namun karena Belanda kemudian memakai bantuan berupa pesawat pembom dan mortir maka akhirnya beliau merasa terdesak hingga akhirnya menyerukan kata Puputan dan  bertempur secara habis-habisan,” sebutnya.
Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gst. Ngurah Rai
Ditanya mengenai makna kata puputan tersebut, beliau mengatakan bahwa itu berarti tuntaskan atau berperang sampai benar-benar penghabisan atau mati. Ketika kemudian ditanyakan perbedaannya dengan Puputan Badung, beliau mengatakan bahwa peristiwa Puputan Badung itu sendiri merupakan kejadian yang terjadi ketika Bali masih merdeka dibawah bentuk kerajaan-kerajaan alias masih bersifat lokal kedaerahan dan ketika itu dilakoni oleh oleh kerajaan Badung bersama seluruh rakyat Badung (sekarang Denpasar). Sedangkan Puputan Margarana adalah peristiwa yang terjadi ketika kita sudah merdeka di bawah NKRI yang berarti sudah bersifat nasional dan dilakoni oleh Pasukan Ciung Wanara beserta para laskar pejuang lainnya. Namun meskipun demikian fenomenanya tetap sama yaitu sama-sama menghadapi kolonialisme penjajahan Belanda.
Lebih lanjut beliau mengatakan, peristiwa ketika itu memang sangatlah heroik sebab mereka yang ikut bertempur bersama beliau di bawah pasukan Ciung Wanara gugur semuanya. Kemudian terkait dengan bagaimana kemudian cerita dapat terwariskan hingga sekarang beliau mengatakan bahwa itu didapat berdasarkan kesaksian yang disampaikan oleh saksi mata di lokasi ketika itu atau bisa juga berasal dari cerita masyarakat yang sempat terlibat didalamnya dan kemudian cerita-cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun.  Tidak hanya itu, cerita tersebut juga muncul dari istri atau keluarga para pejuang, tulisan-tulisan atau benda-benda peninggalan sejarah dan sebagainya. Akan tetapi yang pasti adalah semua prajurit yang saat itu terkepung disana dipastikan gugur semuanya. “Peristiwa itu sangatlah heroik bahkan tidak ada yang tersisa termasuk petingi-petingginya. Justru jika seandainya ketika itu masih ada yang bertahan hidup dari serangan penuh di Margarana tersebut dan mengaku sebagai pahlawan di Puputan Margarana, maka perlu dipertanyakan bagaimana bisa ia masih hidup sedangkan yang lainnya sudah tewas di medan persawahan tersebut,” demikian Prof. Wayan Ardika menjelaskan.

Jumat, 27 Februari 2015

Bentor, kendaraan umum modifikasi khas Makassar

kendaraan umum nampaknya merupakan pilihan yg pas utk mereka yg suka jalan-jalan namun tidak ingin repot memakai kendaraan pribadi sembari menikmati suasana dalam  perjalanan menuju lokasi atau objek wisata yg dituju....jika sempat jalan" ke kota Makassar kita akan melihat Bentor yaitu kendaraan umum khas kota Makassar. Bentor sendiri merupakan kendaraan modifikasi yang berbentuk sejenis becak namun menggunakan sepeda motor sebagai penggeraknya dan tidak menggunakan sepeda gayung seperti becak biasa....kendaraan unik ini nampaknya sangat diminati oleh masyarakat di Bumi Daeng, terbukti dengan banyaknya masyarakat yang lalu lalang dengan menggunakan bentor, selain itu masyarakat yg berprofesi sebagai penarik bentor juga banyak.....mengenai harga sewa dari penggunaan jasa bentor ini, Samin salah satu pemilik jasa Bentor ini mengatakan bahwa biayanya tergantung dari jarak yang ditempuh, namun biasanya Rp 30.000,-, utk jarak dari pimggir kota hingga Pantai Losari, namun   terkadang ada yg memberi lebih namun tidak jarang ada yg memberi kurang dari seharusnya. Namun meski demikian, samin tetap ikhlas menerimanya, karena baginya hal itu adalah rejeki yg tidak boleh ditolak.(wan)

Jumat, 16 Januari 2015

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Bumi Daeng kota Makassar untuk menghadiri acara resepsi pernikahan salah satu kakak sepupu saya, tak banyak ciri khas dari Bumi Daeng yang sempat saya abadikan namun satu hal yang pasti adalah saya ingin sekali kembali berkunjung kesana. Entah kapan itu, hanya Tuhan yang tahu, hehehehehe

berikut beberapa yang sempat saya abadikan
Coto Makassar yang terkenal dan memiliki cita rasa yang khas

Broncong, kue khas Makassar yang dibuat dari kelapa (sepintas memang mirip dengan kue pukis)

Rombong penjual kue Broncong

berfoto bersama Bang Arif, penjual kue Broncong yang ramah
kondisi jalanan kota di malam hari dan bagi saya ini tidaklah terlalu ramai
Bentor, kendaraan umum khas Makassar

saudara kembar saya pun ingin eksis bersama bentor ini
Bentor dan Pemilikmya




Lukisan Sultan Hassanudin di Pantai Losari

awan yang berarak di panasnya siang hari pantai Losari (dan saya kaget karena tidak lama kemudian hujan turun dengan sangat deras) 
sekedar ikut eksis, hehehehehehhehehe

Senin, 11 Agustus 2014

Kebaya Bali--- Karya Seni yang Sering Muncul dalam Upacara Yadnya



Masyarakat Bali sudah dari dulu melaksanakan upacara yadnya yang merupakan bentuk ajaran agama Hindu, hal itu menyebabkan upacara yadnya tersebut menjadi bagian yang tidak akan terpisahkan dari keberadaan masyarakat Bali. Bahkan tidak jarang pelaksanaan ngaturang banten dan upacara yadnya tersebut dijadikan ciri khas dari masyarakat Hindu  itu sendiri. 

Dalam pelaksanaan yadnya tersebut, sebenarnya jika disimak dan diperhatikan dengan baik ada hal menarik yang selalu menyertai, yaitu kebaya yang digunakan oleh ibu-ibu atau kaum perempuan dalam melaksanakan upacara yadnya tersebut. Baik sebagai pengayah mangku atau sang sane muput upacara ataupun sebagai pengayah di bagian lain. Bentuknya serta coraknya yang sangat beragam seolah ikut memeriahkan pelaksanaan upacara yadnya tersebut agar semakin semarak. 

Kualitas dari sebuah kebaya tentu tergantung dari bagaimana kualitas jahitannya serta juga ditentukan oleh jenis kain yang digunakan sehingga harus benar-benar dipilih agar sesuai dengan minat atau jenis baju yang akan dibuat. Setidaknya hal tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bu Candra, salah satu penjahit kebaya yang tinggal di Br. Dukuh Moncos, Sobangan, Mengwi ini. Beliau mengatakan bahwa dalam menghasilkan baju yang bagus dan kualitasnya memuaskan, tidak cukup hanya dengan pas sesuai dengan ukuran pemesan. Jenis kainnya juga harus ditentukan dengan baik karena ada kain yang kualitasnya kurang bagus sehingga ketika setelah dijadikan baju dan dicuci berkali-kali baju tersebut akan menciut atau melonggar sehingga tidak lagi sesuai dengan ukuran pemesan meski tidak semua kain kebaya kualitasnya seperti itu. Selain itu lebih lanjut ibu dua anak ini menjelaskan bahwa mode kebaya saat ini sudah sangat beragam sehingga orang-orang menjadi kembali tertarik untuk membuat berbagai jenis kebaya baru dan dengan bentuk serta rancangan yang mereka ciptakan sendiri. Terutama menjelang adanya piodalan-piodalan atau upacara-upacara keagamaan lainnya.

Keberadaan berbagai jenis kebaya yang saat ini selalu kita lihat terutama saat pelaksanaan upacara agama tentu menunjukkan bahwa masyarakat Hindu Bali juga memiliki rasa seni yang tidak kalah besarnya dengan rasa bhakti terhadap Yang Maha Kuasa . Terbukti berbagai jenis mode baru dari kebaya seolah selalu menyambut datangnya hari suci serta pelaksanaan upacara yadnya. Semoga saja penggunaan kebaya yang bermacam mode tersebut tidak menjadi ajang persaingan bagi masyarakat terutama kaum wanita sehingga mereka lebih terfokus pada persaingan gengsi saja tanpa memahami nilai sradha dan bhakti dalam pelaksanaan upacara tersebut. (wan)
 


Buah Salak--- Bisa Diolah Menjadi Makanan Lainnya

Ketika kita jalan-jalan ke daerah Karangasem atau bahkan sembahyang ke Pura Besakih, tentu akan banyak sekali melihat penjual buah salak. Hal tersebut tentu saja karena Karangasem terutama daerah Sibetan dan Bebandem memang terkenal sebagai daerah penghasil buah salak dan bahkan salak dengan varietas yang unggul seperti salak gula pasir juga dihasilkan di daerah ini. Jadi tidaklah salah jika daerah ini dijuluki sebagai daerah atau bumi salak.
Buah salak sendiri sudah dikenal masyarakat Bali sejak dulu. Bahkan salak seolah tidak pernah absen untuk menjadi bagian dari banten yang dihaturkan masyarakat ketika piodalan atau upacara-upacara yadnya lainnya. Dengan bentuk yang khas, salak menjadi sangat diminati oleh masyarakat karena rasanya yang manis atau kadang agak sedikit asam. Akan tetapi belum semua masyarakat mengetahui bahwa salak bisa dinikmati atau dijadikan makanan lain selain menjadi buah saja.
Menurut Bu Wayan Simpen Armini yang merupakan petani salak termasuk salak gula pasir, banyak sekali makanan dan minuman yang bisa dibuat dengan menggunakan bahan dasar buah salak. Kualitasnya sendiri tidaklah kalah baiknya dengan barang-barang atau makanan yang dibuat di pabrik-pabrik modern. Misalnya saja kripik salak, adapun cara membuatnya yaitu pertama-tama salak dikupas kemudian dicuci dengan air kapur dan ditambahkan dengan sedikit asam sitrat. Setelah itu salak tersebut kemudian direbus setengah matang kemudian diangkat dan dipanggang dengan menggunakan oven. Setelah matang kemudian didinginkan sejenak dan dibungkus atau dinikmati.
Sedangkan untuk membuat Wine, langkah-langkahnya yaitu buah salak tersebut ditumbuk dan digiling untuk diambil airnya, kemudian air salak tersebut dicampur dengan air rebusan kacang hijau dengan ditambahkan gula pasir dan putih telur. Kemudian campuran tersebut ditempatkan ke dalam botol dan didiamkan sampai benar-benar bening dan kotoran-kotorannya mengendap di dasar botol. Setelah benar-benar bening kemudian dikemas dan siap dinikmati.
Selain kripik salak dan Wine tadi, ada pula makanan dan minuman lainnya seperti sirop salak, gorengan, dodol dan bahkan permen salak yang dulu sempat dikonsumsi oleh masyarakat Bali meskipun saat ini permen salak sudah jarang ditemukan keberadaannya. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui dan memahami potensi yang dimiliki oleh masyarakat untuk nantinya dapat diolah dan dimanfaatkan dengan baik sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan perekonomian masyarakat kecil dan menengah ring Bali. (wan)